Bersepeda di pinggir jalan bukan hal yang baik bagiku. Tidak berarti aku tidak mau naik sepeda. Tapi sudah lama sekali berhenti dan tidak lagi mengendarai sepeda. Dan pengalaman yang paling traumatis bagiku adalah bersepeda di jalan Utama.

Ini merupakan peristiwa belasan tahun yang lalu (aku kurang ingat itu tahun berapa), kalau tidak salah waktu itu Aku masih SMP dan tinggal di rumah abang sepupuku. Ada Sepeda Yang dapat dipinjam di rumah itu, waktu itu Sepeda Gunung yang dilengkapi dengan Gigi merupakan model terbaru.

Dengan Sedikit ijin, aku meminjam sepeda di rumah itu, “busssssssssss”.. laju sepeda kukayuh dengan penuh semangat. Gigi demi gigi kutukar, ingin merasakan bagamana berat ringannya mengayuh sepeda tersebut.

Perlahan aku mulai memasuki daerah jalan utama yang ramai dan merupakan area lintas Truk-Truk pengangkut barang, buah dll.

Aku mungkin terlalu jauh mengayuh sepeda itu, cukup jauh dari rumah dan kebetulan Jalan Raya itu baru saja selesai di aspal, tentu saja jalannya mulus. Tapi sayangnya Pinggiran jalan beraspal ini cukup terjalal, dengan kondisi batas pinggir jalan ke bagian yang tidak teraspal lebih tinggi kurang lebih 20 cm.

Aku sampai ditujuan dengan selamat, dan saatnya kembali ke rumah, Dengan Rasa percaya diri yang kuat, akupun mengayuh sepeda gunung itu dengan cepat , semakin lama kayuhanku semakin cepat dan mobil-mobil juga bergerak lebih cepat dari sepeda yang aku gunakan. Tba-tiba aku bergerak terlalu pinggir dan “tressssssssssss” aku tergelincir, dengan sepeda jatuh di pinggir jalan raya, dan kepalaku masih berada di jalan raya.
“tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin”……… “Buuuuuuussssss” Truk dengan kecepatan tinggi melesat dengan cepat tepat di ujung kepalaku. Jantungku seperti telah lepas. Spontan aku melompat dari tempat aku terjatuh. aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dan masih terasa hembusan angin yang begitu kuat di ujung kepalaku.

Memang jatuhku itu tidak sakit, hanya membuat lecet kaki dan tanganku, tetapi angin yang bergerak cepat melewati kepalaku bukan satu hal yang menyenangkan. Rasanya jauh lebih sakit dibanding luka-luka kecil di tubuhku. Tapi ini sama artinya dengan “Sudah jatuh tertimpa tangga pula” ..

Satu Anugerah terbesarlah yang kudapatkan saat itu, karena sedikit saja aku bergerak sudah pasti kepalaku hancur terlindas truk dengan kecepatan tinggi itu. Badanku gemetaran, wajahku pucat, aku terduduk sebentar. Rem di stang kiri patah. Aku pulang ke rumah dengan perlahan menaiki sepeda itu. Masih kuberanikan pulang menggunakannya. Sesampai dirumah aku tidak menceritakan hal ini.Seribu alasan muncul untuk menutupi kejadian tersebut. Padahal sepeda itu baru beberapa minggu di beli

crashed_bicycle_and_lady-d1Sampai detik ini aku tidak berani mengendarai sepeda maupun sepeda motor, bahkan di boncengan pun aku akan gemetaran jika mendengar suara klakson mobil yang melaju kencang, Truk yang berdekatan. Dan belum berani belajar mengendarai sepeda motor sampai detik ini, meskipun kejadian itu telah belasan tahun yang lalu. Untuk mencoba memberanikan diri, sepertinya belum punya nyali. Lututku akan terasa gemetar dan lemes. Pengalaman ini adalah pengalaman yang traumatis dan menakutkan.
Pengalaman kecil ini merenggut sekian besar keberanianku untuk berkendara di pinggiran jalan, terutama di daerah yang banyak di lewati oleh bus atau truk.

==================

Pesan saya : Bersepedalah dengan hati-hati dan gunakan lah jalur yang seharusnya menjadi jalur kita. Demi keselamatan jiwa. Jangan Lupa gunakan Pengaman Kepala saat bersepeda

Tulisan ini kubuat sebagai kenangan akan pengalaman masa remaja yang sedikit banyak merenggut keberanianku hingga sedewasa ini. “Pasti menyenangkan seandainya aku punya keberanian naik motor ya”. Sekaligus ikut memeriahkan Pengalaman mengesankan dalam bersepeda yang di adakan oleh mas isro di http://isro-m.com



Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google